Senin, 05 Maret 2012

UKURAN MATERI

Semalam saya bertemu dengan sahabat lama, salah satu teman seperjuangan ketika dulu aktif berorganisasi. Sahabat lama saya ini bertemu saya untuk kangen-kangenan sekaligus mendiskusikan beberapa hal dengan spesifikasi topik adalah : Menikah. Kebetulan sahabat saya ini akan menikah dua bulan lagi. Bicara tentang sahabat saya ini, dia memang menjadi salah satu orang yang cukup memberikan inspirasi bagi saya sejak dulu. Mulai dari Kemauan dia untuk berhijrah, Semangat dan antusiasmenya, kemauan dia untuk belajar, kemampuan dia dalam memaknai beberapa hal adalah hal yang saya harus banyak belajar dari beliau ini. Saat ini dia bisa dibilang dalam posisi almost on the top of career dalam karir bekerjanya dia. Saat ini dia bekerja di salah satu MNC di Indonesia, dan dia menjadi salah satu manager di daerah. Usianyapun masih muda, below 30. Alhamdulillah, (finally) dia akan mengakhiri masa lajangnya J dari pertemuan singkat dengan beliau, menginspirasi saya untuk menulis berikut ini :

Sering kita mengukur sesuatu dari hanya materinya saja. Misal, orang yang sukses adalah orang yang kaya. Atas dasar apa dia kita sebut kaya ? Rumahnya Mewah, Mobilnya Mewah, Depositonya banyak, dan berbagai banyak-banyak lainnya. Dan bagaimana orang itu bisa kaya raya? Penghasilannya banyak (Disini kita tidak meyinggung halal haramnya) makanya ketika lebaran, banyak masyarakat kita pada jor-joran, misal bawa mobil baru, HP terbaru, baju baru (kalo perlu labelnya masih nyangkut biar orang pada tau kalo bajunya baru) dan begitulah.... It’s all about Materi. Makanya ketika kita melihat orang yang rumahnya sempit, kemana-mana hanya bermotor ria ato bahkan menggunakan kendaraan umum. O... berarti orang ini sek melas, belum sukses. Ukuran kesuksesan itu hanya berlandaskan pada materi. Saja. Wajar siy memang mengingat hal tersebut adalah yang paling easy to see, dan memang hal tersebut adalah salah satu dari ukuran kesuksesan. Ya, salah satu dari salah banyak yang ada di muka bumi ini.

Mengingat betapa materialistisnya kebanyakan masyarakat kita, hal tersebut yang kemudian membuat kita menunda-nunda melaksanakan sesuatu. Salah satu yang paling gampang ditunda-tunda dalam hal ini adalah : Berkeluarga alias Menikah. Ya, banyak yang menunda menikah karena merasa belum mapan. Ya, ada misalkan sahabat saya yang meskipun gajinya minimal 5 juta perbulan, dia merasa belum mapan dan belum siap untuk menikah dan berkeluarga. Sementara ada sahabat saya yang lainnya, yang saya tahu gajinya 1 juta maksimal lebih-lebih dikit, dia berani untuk menikah, bahkan istrinya saat ini akan melahirkan anak keduanya. Dan dia saat ini masih hidup kok bersama istri dan anaknya, insyAllah sehat. Oya, istrinya temen saya ini tidak bekerja, which is pemasukan keluarga hanya berasal dari suami sahaja. Sahabat saya yang saya ceritakan di paragraf pertama tulisan inipun juga demikian. Saat ini dia membawahi banyak anak buah. Ketika teman saya berdiskusi dengan anak buahnya yang notabene gajinya dibawah dia, teman saya ini juga terkaget-kaget, salah satunya adalah anak buahnya yang sudah beranak 3, istri Ibu Rumah Tangga, tapi bisa beli rumah dan kendaraan roda 4. Padahal teman saya ini tahu persis berapa gajinya dan itu dibawah dia. Dan itu cukup. Tapi teman saya ini merasa gajinya masih saja belum cukup.





Begitulah, kalau kita melihat masyarakat-masyarakat kita, semakin macam-macam saja ceritanya. Selain menikah, salah satu yang ditunda-tunda oleh masyarakat kita dengan alasan materi biasanya adalah kepergian ke Tanah Suci. Ya, Menunaikan Rukun Islam ke- 5 ini memang relatively high cost. Paling nggak kalo gak salah, kalo kita mau umroh kita harus punya 17 Juta, Haji 35 juta, dan haji plus 70 juta. Itu baru seputar pemberangkatan dan akomodasi standar kita kesana,belum oleh-olehnya. Tapi kenyataan di lapangan, banyak orang-orang yang kita tahu masuk kriteria ‘melas’ itu tadi, ternyata sudah beberapa kali umroh dan naik haji. Sama istrinya lagi. Disisi lain, kita mendapati ada pejabat negara kita, yang sekali gajinya cukup untuk digunakan haji plus berdua bareng istrinya. Tapi nyata-nyatanya, pejabat negara kita ini belum naik haji ampe sekarang.

Anyway, dalam tulisan ini lantas bukannya saya sekonyong-konyong menuduh orang yang lum nikah dan lum haji itu karena terlalu perhitungan materi ato apa. Tapi dari tulisan ini setidaknya saya ingin mengajak kita berefleksi, jangan-jangan alasan kita belum menunaikan dua kewajiban ini tuh karena alasan itu tadi. Saya ambil contoh diri saya sendiri. Oke saat ini saya udah nikah, tapi inipun sebenarnya telat banget. Rencana saya nikah umur 25, tapi saya akhirnya menikah diatas usia tersebut. Tapi jujur selain materi, yang saya dapati terkait alasan saya untuk akhirnya menikah above 25 adalah masalah mental. Ya, menikah itu menurut saya adalah masalah mental dan kemauan. Itu saja. Setidaknya itu yang kemudian menjadi dasar atas segala sesuatunya selanjutnya. Bagi Pria. Kalo bagi wanita saya tidak paham. Karena saya sendiri belum pernah sama sekali menjadi wanita. Hehe. Dan wanita itu kompleks banget kayaknya. Not as simple as a Man. I Thought.

Kalo terkait haji, menurut saya itu benar-benar permasalahan ‘panggilan jiwa dan raga’. Mungkin ada siy orang yang karena kaya raya dia haji/umroh hampir tiap tahun. Tapi nyatanya, mungkin secara akhlaq ataupun tauladan, dia sangat tidak patut dijadikan acuan. Well, mungkin raganya tiap tahun bisa mengunjungungi baitul haram, tapi, bagaimana dengan jiwanya ? Itulah kenapa saya sebutkan tadi Mengunjungi Baitullah ini adalah Panggilan Jiwa dan Raga. Karena itulah mungkin kita banyak mendapati para haji / hajjah yang koruptor /atau melakukan tidak tidak terpuji lainnya. Itulah kenapa juga Ippho Santosa menyarankan kita untuk memantaskan diri untuk memenuhi Panggilan ke Tanah Suci. InsyaAllah kalau kita dah ‘layak’ akan ada kemudahan bagi kita untuk tiba-tiba saja bisa berangkat memenuhi Panggilan-Nya ke Tanah Suci. Tapi tetaplah, upaya otak kiri (menabung) dan otak kanan (memantaskan diri) harus tetap dilakukan. Tapi sekali lagi disini saya ingin menekankan, tidak hanya melulu materi materi dan materi. Tapi tetaplah materi itu penting. Tapi pemantasan diri adalah upaya yang mutlak harus kita lakukan. Itu kalau kita ingin memenuhi Panggilan Jiwa dan Raga ke Tanah Suci. Kalo Cuma datang kesana, foto-foto, shopping, ya... itu aja yang didapat.

Mengakhiri tulisan ini, saya ingin mengatakan saya tidak menjustifikasi ataupun menuduh orang yang lum haji dan lum nikah itu buruk ato apa. Khusus untuk menikah tulisan ini hanya berlaku untuk pria ya, kalo wanita.... ya ada ceritanya sendirilah, dan saya tidak tahu itu. Tapi kalau haji ini lintas gender J Kalau toh kita belum menikah ataupun belum berhaji ya coba tanyakan kepada diri kita apakah ke’belum’an kita melakukannya apakah karena kita terlalu memikirkan materi ? Ya materi itu penting, tapi percayalah Allah akan memudahkan kalau kita memang berniat. Mari kita niatkan dulu, lakukan upaya-upaya ala otak kiri, dan pertajam pula upaya-upaya otak kanannya. Kalau kita belum melakukannya karena berbagai alasan lain yang itu memang menurut kita patut dilaksanakan dulu, ya monggo-monggo saja. Coz we are livin’ our very own life. Cuma ya itu tadi, jangan sampai ukuran-ukuran materi menjadi dasar utama kita dalam mengambil keputusan-keputusan dalam hidup kita.

We wish you very very happy and very wonderful life J

1 komentar: