LIFE IS TOO SHORT, MAKE IT MEANINGFULL !!! Hidup Sekali Hiduplah Yang Berarti
Rabu, 06 Juni 2012
Life is a Roller coaster
lagunya siapa entah saya lupa, tapi saya tidak ingin mengupas lagu tersebut disini...
karena saya juga lupa siapa penyanyinya...
saya juga lupa lagunya seperti apa,
tapi bentar2, itu lagu ato hanya syair ya, ah... whatever...
yang jelas hidup memang seperti rollercoaster,
menyenangkan, tetapi bikin spot jantung juga...
kadang naik, kadang turun...
kita menantang maut, tapi juga kita dalam hati tau bahwa insyaAllah amanlah meski kita diseperti itukan... karena memang alat seperti roller coaster haruslah memiliki standar keamanan yang ketat dan tinggi... makanya juga bayarnya cukup mahalkn y? kalau toh kita ditakut2in dengan Final Destination 3, ya... itu mah sudah destiny kalo Na'udzubillahimindzalik hal seperti itu terjadi...
anyway asyik sebenarnya kalo bisa hidup seperti menaiki rollercoaster,
selama kita sudah menjaga dan meningkatkan stamina sehingga kita tidak puyeng ketika menaikinya dan bisa total menikmati roller coaster yang kita naiki...
selama kita yakin standar keamanannya sudah terpenuhi karena kita sudah membayar atas keamanan kita sehingga bisa total menikmati roller coaster yang kita naiki...
selama kita berani karena sudah mempersiapkan diri atas apa yang akan kita lihat dan rasakan sehingga bisa total menikmati roller coaster yang kita naiki...
selama kita bisa berpasrah atas hal2 buruk yang mungkin bisa saja terjadi disamping juga telah mengoptimalkn ikhtiar atas keamanan sehingga bisa total menikmati roller coaster yang kita naiki...
selama kita tahu bahwa naik rollercoaster itu seru daripada naik kuda-kudaan yang bahkan anak balitapun sudah bisa menaikinya....
sehingga pertanyaan terakhir adalah,
sudah siapkah kita memiliki hidup seperti menaiki roller coaster?
ato lebih memilih hidup yang lempeng seperti naik kuda-kudaan?
beda pilihan, beda kualitas, beda hasil, beda karya
the choice is depend on ourself...
Senin, 04 Juni 2012
KONSISTEN !!!
Tapi ngelakuinnya susah banget yaaaaaaa....
Lum kebiasa kali ya...
A bad example : saya merencanakan paling tidak satu pekan tiga tulisan saya posting di blog... In Fact ? setelah hampir dua pekan saya baru nulis lagi niy...
Saya kemudian berpikir ulang, tidak hanya masalah blog, tapi juga masalah my life so far...
hal apa yang konsisten saya lakukan dari dulu ampe sekarang? so sad, sepertinya tidak ada... padahal itu yang dibutuhkan seseorang untuk bisa melahirkan karya dan menjadi 'sesuatu'
Anyway, it is almost the middle of 2012, masih ada waktu untuk saya dan mungkin anda yang 'senasib' dengan saya untuk memperbaiki semuanya...
upaya saya memperbaiki, selain saya telah memiliki target at least for 10 years...
saya menuliskan apa yang saya rasakan ini dalam blog, beberapa mungkin beranggapan ini mengumbar aib, well, ketika saya mengatakan keburukan yang telah saya lakukan dan tidak ada daya upaya mempebaiki, it is mengumbar aib... Tapi inikan saya ada itikad memperbaiki, saya tuliskan ini dalam blog, barangkali ada yang ngebaca tulisan ini pas ketemu saya harapan saya bisa ngingetin saya... untuk lebih K O N S I S T E N...
karena berdasarkan beberapa buku yang saya baca, ketika kita meniatkan sesuatu, declare it !!!
dan deklarasi saya adalah memperbaiki inkonsistensi saya dalam.... banyak hal !!! yang terpenting adalah dalam how i run my life, bagaimana saya konsisten dalam langkah2 mencapai target dan impian, dan yang lebih terpenting lagi adalah dalam terus memperbaiki diri dan melapangkan hati
bagi sapa aja yang tidak sengaja mbaca postingan ini, mohon doanya ya...
Selasa, 15 Mei 2012
About Death...
Senin, 07 Mei 2012
Sekali lagi tentang Menulis...
Rabu, 07 Maret 2012
Subhanallah Negeri 5 Menara...
Awal saya muncul novel negeri 5 menara sy entah kenapa tidak terlalu tertarik, meski sudah jadi best seller dan tmn2 banyak yg baca...asal tau saja kalo buku ini menceritakan kehdupan pesantren. padahal saya juga alumni pesantren. mungkin karena sy alumni pesantren jdi merasa tau kehidupan pesantren itu gimana. makanya tidak terlalu penasaran. ya begitu itulah cerita kehidupan di pondok. udah tau saya. tapi semakin banyak diperbincangkan dan apalagi mau dibuat film mulai agak sedikit penasaran. tetapi tidak terlalu penasaran. karena jujur terakhir kali sebuah film indonesia menceritakan kehidupan pesantren, sy merasa sakit hati. karena dalam film itu pesantren digambarkan sangat tidak demokratis, korup, kaku, bahkan sampe ada adegan pembakaran buku. film itu sangat tidak berimbang critany, dn tdk ada penjelasan dn upaya penjelasan kalo intinya g bgtu semualh pesantren itu. dulu tempat saya nyantri gak gitu banget sama sekali kok... dan tmn2 sy yg kbtulan jg mondok di pondok lain jg g ada yg bgtu kok pesantrennya... apalagi smpe mbakar2 buku gtu... intinya gak berimbang sama sekali tu film dalam menyampaikan message-nya... menurut saya...
tpi khusus film negeri 5 menara ini, entah kenapa pokoknya saya harus nonton niy film... dan akhirnya nontonlah sy film negeri 5 menara...
begitu saya menonton filmnya... saya tidak henti2nya mengucapkan kalimat tasbih... niy film duahsyat abis... entah berapa kali mata saya berkaca-kaca, mengeluarkan air mata, semuanya dalam koridor terharu, lucu, senang, dan berbagai generator positif lainnya... mulai dari critanya, lokasinya, semuanya seolah-olah mengnhangatkan jiwa dan pokiran saya... tapi yang lebih penting adalah ceritanya... subhanallah subhanallah subhanallah... critanya sangat cantik, message-nya sangat masuk, dan karakter-karakter yang ada di filmnya juga sangat menarik... para pemerannyapun juga sangat baik memerankan tokoh-tokohny, wajahnyapun indonesia smw lagi, gak ada wajah2 'indo' sperti yg bertebaran di sinetron kita...saya sangat puas menyaksikan film ini... mungkin... yang saya rasa kurang menarik di film ini adalah durasinya yang seharusnya bisa lebih diperpanjang :-)
film ini sangat menarik, cantik, baik, entah apalagilah...
dan bgtu nonton film trsebut tadi malam, saya berencana ini tadi pergi ke toga mas buat beli bukunya... dan ternyata... habis... masih diorder...
gakpapalah... selain man jadda wajada, ada lagi man shobaro dhofiro... saya harus sabar... insyAllah nanti dapet kok bukunya...
Mabruk Negeri 5 Menara...
Mabruk Bang A. Fuadi...
Tulisan ini saya tulis dalam Testimoni saya di website Negeri 5 Menara...
Gak tau tapi kemuat semua apa tidak... :-)
Saat tulisan ini saya post masih Loading, hehe2...
Senin, 05 Maret 2012
UKURAN MATERI
Sering kita mengukur sesuatu dari hanya materinya saja. Misal, orang yang sukses adalah orang yang kaya. Atas dasar apa dia kita sebut kaya ? Rumahnya Mewah, Mobilnya Mewah, Depositonya banyak, dan berbagai banyak-banyak lainnya. Dan bagaimana orang itu bisa kaya raya? Penghasilannya banyak (Disini kita tidak meyinggung halal haramnya) makanya ketika lebaran, banyak masyarakat kita pada jor-joran, misal bawa mobil baru, HP terbaru, baju baru (kalo perlu labelnya masih nyangkut biar orang pada tau kalo bajunya baru) dan begitulah.... It’s all about Materi. Makanya ketika kita melihat orang yang rumahnya sempit, kemana-mana hanya bermotor ria ato bahkan menggunakan kendaraan umum. O... berarti orang ini sek melas, belum sukses. Ukuran kesuksesan itu hanya berlandaskan pada materi. Saja. Wajar siy memang mengingat hal tersebut adalah yang paling easy to see, dan memang hal tersebut adalah salah satu dari ukuran kesuksesan. Ya, salah satu dari salah banyak yang ada di muka bumi ini.
Mengingat betapa materialistisnya kebanyakan masyarakat kita, hal tersebut yang kemudian membuat kita menunda-nunda melaksanakan sesuatu. Salah satu yang paling gampang ditunda-tunda dalam hal ini adalah : Berkeluarga alias Menikah. Ya, banyak yang menunda menikah karena merasa belum mapan. Ya, ada misalkan sahabat saya yang meskipun gajinya minimal 5 juta perbulan, dia merasa belum mapan dan belum siap untuk menikah dan berkeluarga. Sementara ada sahabat saya yang lainnya, yang saya tahu gajinya 1 juta maksimal lebih-lebih dikit, dia berani untuk menikah, bahkan istrinya saat ini akan melahirkan anak keduanya. Dan dia saat ini masih hidup kok bersama istri dan anaknya, insyAllah sehat. Oya, istrinya temen saya ini tidak bekerja, which is pemasukan keluarga hanya berasal dari suami sahaja. Sahabat saya yang saya ceritakan di paragraf pertama tulisan inipun juga demikian. Saat ini dia membawahi banyak anak buah. Ketika teman saya berdiskusi dengan anak buahnya yang notabene gajinya dibawah dia, teman saya ini juga terkaget-kaget, salah satunya adalah anak buahnya yang sudah beranak 3, istri Ibu Rumah Tangga, tapi bisa beli rumah dan kendaraan roda 4. Padahal teman saya ini tahu persis berapa gajinya dan itu dibawah dia. Dan itu cukup. Tapi teman saya ini merasa gajinya masih saja belum cukup.

Kalo terkait haji, menurut saya itu benar-benar permasalahan ‘panggilan jiwa dan raga’. Mungkin ada siy orang yang karena kaya raya dia haji/umroh hampir tiap tahun. Tapi nyatanya, mungkin secara akhlaq ataupun tauladan, dia sangat tidak patut dijadikan acuan. Well, mungkin raganya tiap tahun bisa mengunjungungi baitul haram, tapi, bagaimana dengan jiwanya ? Itulah kenapa saya sebutkan tadi Mengunjungi Baitullah ini adalah Panggilan Jiwa dan Raga. Karena itulah mungkin kita banyak mendapati para haji / hajjah yang koruptor /atau melakukan tidak tidak terpuji lainnya. Itulah kenapa juga Ippho Santosa menyarankan kita untuk memantaskan diri untuk memenuhi Panggilan ke Tanah Suci. InsyaAllah kalau kita dah ‘layak’ akan ada kemudahan bagi kita untuk tiba-tiba saja bisa berangkat memenuhi Panggilan-Nya ke Tanah Suci. Tapi tetaplah, upaya otak kiri (menabung) dan otak kanan (memantaskan diri) harus tetap dilakukan. Tapi sekali lagi disini saya ingin menekankan, tidak hanya melulu materi materi dan materi. Tapi tetaplah materi itu penting. Tapi pemantasan diri adalah upaya yang mutlak harus kita lakukan. Itu kalau kita ingin memenuhi Panggilan Jiwa dan Raga ke Tanah Suci. Kalo Cuma datang kesana, foto-foto, shopping, ya... itu aja yang didapat.
Mengakhiri tulisan ini, saya ingin mengatakan saya tidak menjustifikasi ataupun menuduh orang yang lum haji dan lum nikah itu buruk ato apa. Khusus untuk menikah tulisan ini hanya berlaku untuk pria ya, kalo wanita.... ya ada ceritanya sendirilah, dan saya tidak tahu itu. Tapi kalau haji ini lintas gender J Kalau toh kita belum menikah ataupun belum berhaji ya coba tanyakan kepada diri kita apakah ke’belum’an kita melakukannya apakah karena kita terlalu memikirkan materi ? Ya materi itu penting, tapi percayalah Allah akan memudahkan kalau kita memang berniat. Mari kita niatkan dulu, lakukan upaya-upaya ala otak kiri, dan pertajam pula upaya-upaya otak kanannya. Kalau kita belum melakukannya karena berbagai alasan lain yang itu memang menurut kita patut dilaksanakan dulu, ya monggo-monggo saja. Coz we are livin’ our very own life. Cuma ya itu tadi, jangan sampai ukuran-ukuran materi menjadi dasar utama kita dalam mengambil keputusan-keputusan dalam hidup kita.
We wish you very very happy and very wonderful life JKamis, 09 Februari 2012
BOLA GOLF
Seorang pemain profesional bertanding dalam sebuah turnamen golf. Ia baru saja membuat pukulan yang bagus sekali yang jatuh di dekat lapangan hijau. Ketika ia berjalan di fairway, ia mendapati bolanya masuk ke dalam sebuah kantong kertas pembungkus makanan yang mungkin dibuang sembarangan oleh salah seorang penonton. Bagaimana ia bisa memukul bola itu dengan baik? Sesuai dengan peraturan turnamen, jika ia mengeluarkan bola dari kantong kertas itu, ia terkena pukulan hukuman. Tetapi kalau ia memukul bola bersama-sama dengan kantong kertas itu, ia tidak akan bisa memukul dengan baik. Salah-salah, ia mendapatkan skor yang lebih buruk lagi. Apa yang harus dilakukannya? Banyak pemain mengalami hal serupa. Hampir seluruhnya memilih untuk mengeluarkan bola dari kantong kertas itu dan menerima hukuman. Setelah itu mereka bekerja keras sampai ke akhir turnamen untuk menutup hukuman tadi. Hanya sedikit, bahkan mungkin hampir tidak ada, pemain yang memukul bola bersama kantong kertas itu. Resikonya terlalu besar. Namun, pemain profesional kita kali ini tidak memilih satu di antara dua kemungkinan itu. Tiba-tiba ia merogoh sesuatu dari saku celananya dan mengeluarkan sekotak korek api. Lalu ia menyalakan satu batang korek api dan membakar kantong kertas itu. Ketika kantong kertas itu habis terbakar, ia memilih tongkat yang tepat, membidik sejenak, mengayunkan tongkat, wus, bola terpukul dan jatuh persis di dekat lobang di lapangan hijau. Bravo! Dia tidak terkena hukuman dan tetap bisa mempertahankan posisinya. *** Ada orang yang menganggap kesulitan sebagai hukuman, dan memilih untuk menerima hukuman itu. Ada yang mengambil resiko untuk melakukan kesalahan bersama kesulitan itu. Namun, sedikit sekali yang bisa berpikir kreatif untuk menghilangkan kesulitan itu dan menggapai kemenangan. (anonymous)

