Rabu, 06 Juni 2012

Life is a Roller coaster

tiba2 teringat lagu life is a rollercoaster....

lagunya siapa entah saya lupa, tapi saya tidak ingin mengupas lagu tersebut disini...

karena saya juga lupa siapa penyanyinya...

saya juga lupa lagunya seperti apa,

tapi bentar2, itu lagu ato hanya syair ya, ah... whatever...

yang jelas hidup memang seperti rollercoaster,
menyenangkan, tetapi bikin spot jantung juga...
kadang naik, kadang turun...

kita menantang maut, tapi juga kita dalam hati tau bahwa insyaAllah amanlah meski kita diseperti itukan...  karena memang alat seperti roller coaster haruslah memiliki standar keamanan yang ketat dan tinggi... makanya juga bayarnya cukup mahalkn y? kalau toh kita ditakut2in dengan Final Destination 3, ya... itu mah sudah destiny kalo Na'udzubillahimindzalik hal seperti itu terjadi...

anyway asyik sebenarnya kalo bisa hidup seperti menaiki rollercoaster,

selama kita sudah menjaga dan meningkatkan stamina sehingga kita tidak puyeng ketika menaikinya dan bisa total menikmati roller coaster yang kita naiki...

selama kita yakin standar keamanannya sudah terpenuhi karena kita sudah membayar atas keamanan kita sehingga bisa total menikmati roller coaster yang kita naiki...

selama kita berani karena sudah mempersiapkan diri atas apa yang akan kita lihat dan rasakan sehingga bisa total menikmati roller coaster yang kita naiki...

selama kita bisa berpasrah atas hal2 buruk yang mungkin bisa saja terjadi disamping juga telah mengoptimalkn ikhtiar atas keamanan sehingga bisa total menikmati roller coaster yang kita naiki...

selama kita tahu bahwa naik rollercoaster itu seru daripada naik kuda-kudaan yang bahkan anak balitapun sudah bisa menaikinya....

sehingga pertanyaan terakhir adalah,

sudah siapkah kita memiliki hidup seperti menaiki roller coaster?

ato lebih memilih hidup yang  lempeng seperti naik kuda-kudaan?

beda pilihan, beda kualitas, beda hasil, beda karya

the choice is depend on ourself...

Senin, 04 Juni 2012

KONSISTEN !!!

Konsisten itu memang sangat mudah diucapkan, mudah dijanjikan, mudah dilafalkan....

Tapi ngelakuinnya susah banget yaaaaaaa....

Lum kebiasa kali ya...

A bad example : saya merencanakan paling tidak satu pekan tiga tulisan saya posting di blog... In Fact ? setelah hampir dua pekan saya baru nulis lagi niy...

Saya kemudian berpikir ulang, tidak hanya masalah blog, tapi juga masalah my life so far...

hal apa yang konsisten saya lakukan dari dulu ampe sekarang? so sad, sepertinya tidak ada... padahal itu yang dibutuhkan seseorang untuk bisa melahirkan karya dan menjadi 'sesuatu'

Anyway, it is almost the middle of 2012, masih ada waktu untuk saya dan mungkin anda yang 'senasib' dengan saya untuk memperbaiki semuanya...

upaya saya memperbaiki, selain saya telah memiliki target at least for 10 years...
saya menuliskan apa yang saya rasakan ini dalam blog, beberapa mungkin beranggapan ini mengumbar aib, well, ketika saya mengatakan keburukan yang telah saya lakukan dan tidak ada daya upaya mempebaiki, it is mengumbar aib... Tapi inikan saya ada itikad memperbaiki, saya tuliskan ini dalam blog, barangkali ada yang ngebaca tulisan ini pas ketemu saya harapan saya bisa ngingetin saya... untuk lebih K O N S I S T E N...

karena berdasarkan beberapa buku yang saya baca, ketika kita meniatkan sesuatu, declare it !!!

dan deklarasi saya adalah memperbaiki inkonsistensi saya dalam.... banyak hal !!! yang terpenting adalah dalam how i run my life, bagaimana saya konsisten dalam langkah2 mencapai target dan impian, dan yang lebih terpenting lagi adalah dalam terus memperbaiki diri dan melapangkan hati

bagi sapa aja yang tidak sengaja mbaca postingan ini, mohon doanya ya...

Selasa, 15 Mei 2012

About Death...




Tragedi Sukhoi di Gunung Salak...

Hampir semua pemberitaan media massa dan elektronik kita mengkabarkan berita tersebut.  Sangat tragis memang peristiwa ini.  Kok bisa-bisanya Pesawat Sukhoi yang konon terkenal canggih itu bisa mengalami peristiwa naas seperti yang terjadi beberapa waktu yang lalu itu.  

Sangat naas sekali hingga muncul gambar beredar di social media sesuatu yang konon merupakan potongan-potongan mayat dar korban kecelakaan tersebut.  Truly Desperately falls into pieces...

Innalillahiwa inna ilaihi rajiun...

Kematian memang sesuatu yang sangat misteri.  No one can guess and know them.  Kecuali Death Note ada beneran di dunia ini (Ngayal...) Itu aja di akhir ceritanya si Light Yagami (Tokoh utama di Film Jepang Death Note) kena juga dia ketulis di Death Note dan kemudian dia: Death.


Bagi yang belum Tahu Death Note, Death Note merupakan film jepang yang keureeen buanguet... inti ceritanya ada sebuah buku bernama Death Note, buku ini jatuh dari Alam Lain.  Dan kalo kita nulis nama seseorang di Buku itu, (kalo gak salah) dalam waktu 1 x 24 jam seseorang itu akan meninggal.  Cara meninggalnyapun by request, misal : Si X Meninggal karena menabrak Pohon Lombok, ya Si X bakal bener2 meninggal karena menabrak pohon lombok.  Tapi kalo cara kematiannya tidak ditulis, maka Si X akan meninggal karena serangan jantung.

But there is no such thing like that in this world.

Kematian Bu Menkes kitapun juga cukup mengejutkan, meski diakhir2 sebelum beliau meninggal memang beliau sempat Kritis.  Tapi seorang dokter yang sangat pintar, yang tentunya mengetahui apa yang baik dan apa yang tidak baik untuk kesehatannya, ternyata meninggalnya beliau  dengan mengidap penyakit yang banyak diidap oleh orang-orang yang mengabaikan kesehatannya.  Begitulah dunia ini berjalan, tidak ada yang benar-benar pasti selain ketidakpastian. 


Ada juga kematian beberapa atlet  seperti pemain sepak bola dan cabang-cabang lainnya yang secara tidak sengaja saya ketahui di pemberitaan-pemberitaan televisi akhir-akhir ini.   Salah satu kematian juga yang paling mengejutkan adalah mungkin Kematian Dari Adjie Massaid.  Setau saya Adjie Massaid adalah aktor yang sangat atletis yang bahkan cukup menjadi icon hidup sehat di Indonesia.  Dia rajin berolahraga menjaga kesehatan, dsb. Adjie Massaid meninggal setelah dia bermain Futsal, aktivitas yang seharusnya membuat dia hidup sehat hingga kemudian bisa hidup lebih lama.

Hingga kemudian bisa kita ambil hikmah bahwasanya Kematian adalah benar-benar misteri.  Orang sehat tidak berarti dia akan hidup lebih lama, orang yang tahu kesehatanan juga tidak berarti akan tahu bagaimana menjaga dirinya agar hidup sehat dan kemudian dia bisa hidup lebih lama. Tapi Tentunya tetap kita harus berikhtiar menjaga kesehatan kita.  Tahu bagaimana menjaga kesehatan dan melakukan upaya penjagaan kesehatan. Tapi itu tidak berkorelasi  positif langsung dengan kesakitan, even kematian.  Kita berolahraga, menjaga kesehatan adalah agar kita bisa beraktivitas dengan lebih baik.  kita menjaga makanan kita, agar kita juga bisa meningkatkan kualitas hidup kita untuk kemudian bisa beraktivitas dengan lebih baik. 

Karena tidak terlalu adanya korelasi antara kematian dengan apapun, setidaknya ini selalu menjadi wake up call bagi kita agar kita selalu mawas diri dan menjaga diri dan tidak terlalu rakus dalam kehidupan ini.  Sewibawa apapun SBY, sepintar apapun Habibie, secerdas apapun Jusuf Kalla jelas semuanya akan mengalami kematian.  Dan orang mati itu hanya akan menempati lahan 2x1 M, hal ini juga berlaku bagi Pebisnis properti yang propertinya dimana-mana dan gede-gede. 

Just act as best as we can as human,  as An Almighty God’s creature...

Coz we just life once....

And all of us, will be death nomatter when that will be happened...

Senin, 07 Mei 2012

Sekali lagi tentang Menulis...


Ada dua waktu ketika kita bisa benar-benar nulis...

Satu, saat kita dikejar-kejar deadline, itulah kenapa the power of kepepet tidak hanya berlaku dalam motivasi bisnis saja.  Motivasi menulispun butuh the power of kepepet.  Memang benar sekali keadaan terpepet adalah keadaan yang bisa ‘menghidupkan’.  Dalam banyak hal ternyata, termasuk dalam hal tulis menulis juga.

Dua, saat kita berada dalam kondisi yang kita tidak bisa kemana-mana, dan melakukan yang lain juga sudah enggan bagi kita untuk melakukannya, dan kita punya cita-cita menghasilkan sejumlah tulisan dalam kurun waktu tertentu.  Yup, itulah satu waktu lainnya yang kita bisa bener-bener nulis.  Setidaknya inilah yang melatarbelakangiku menulis tulisan ini.  Hujan sedemikian derasnya.  Ngerjain kerjaan kantor udah mentok.  Browsing2 juga gak ada ide.  Ngerjain PR kuliah masih ngumpulin semangat.  Disisi lain punya target nulis, jadinya : Nulis deh...

Setelah membaca dan melakukan 80 % membuat proposal hidup sebagaimana yang diinstruksikan dalam buku “tuhan inilah proposal hidupku”-nya Bang Jamil Azzaini, salah satu dari banyak hal yang saya tuliskan dalam target  triwulan-an adalah membuat 30 tulisan dalam waktu 3 bulan.  Kalo diitung, berarti tiap bulan harus bikin 10 tulisan.  Satu bulan 30 hari, berarti tiap 3 hari sekali harus bikin tulisan.  ITU HARUSNYA... BTW sekarang udah tanggal 7, dan aku baru bikin target triwulannya hari ini yang tanggal 7 ini, 30-7= 23, berarti dalam 2,3 hari satu buah tulisan harus keluar, apapun itu...

Sebenarnya niatan menulis udah lama, entah berapa puluh ide yang hilang dan terlupakan begitu saja gara2 kemalasanku untuk menulis.  Padahal jujur menulis bagi saya bisa menjadi terapi tersendiri dalam menata pikiran.  Karena saya orang melankolis, yang kebetulan juga penampakannya sanguinis, jadinya menulis bagi saya adalah sesuatu yang membebaskan yang seharusnya tidak membebankan dan bisa menjadi sesuatu yang bisa menjadi sarana bagi saya untuk bisa lebih menjadi manusia seutuhnya... Halah...

Ya, semoga momentum bikin Proposal hidup ini bisa meng-istiqomah-kan alias meng-kontinyu-kan diri untuk terus menulis sebagai wujud mencurahkan perasaan, tidak dengan membanting piring atau gelas, hehe2.... Makanya tulisannya gak saya simpen, saya posting di Blog, saya promokan di Fesbuk dan Twitter, kali aja.... ada yang mbaca dan baik hati ngasih semangat buat nulis terus...

Hehehe !!!

Ayo kita menulis...

Rabu, 07 Maret 2012

Subhanallah Negeri 5 Menara...


Awal saya muncul novel negeri 5 menara sy entah kenapa tidak terlalu tertarik, meski sudah jadi best seller dan tmn2 banyak yg baca...asal tau saja kalo buku ini menceritakan kehdupan pesantren. padahal saya juga alumni pesantren. mungkin karena sy alumni pesantren jdi merasa tau kehidupan pesantren itu gimana. makanya tidak terlalu penasaran. ya begitu itulah cerita kehidupan di pondok. udah tau saya. tapi semakin banyak diperbincangkan dan apalagi mau dibuat film mulai agak sedikit penasaran. tetapi tidak terlalu penasaran. karena jujur terakhir kali sebuah film indonesia menceritakan kehidupan pesantren, sy merasa sakit hati. karena dalam film itu pesantren digambarkan sangat tidak demokratis, korup, kaku, bahkan sampe ada adegan pembakaran buku. film itu sangat tidak berimbang critany, dn tdk ada penjelasan dn upaya penjelasan kalo intinya g bgtu semualh pesantren itu. dulu tempat saya nyantri gak gitu banget sama sekali kok... dan tmn2 sy yg kbtulan jg mondok di pondok lain jg g ada yg bgtu kok pesantrennya... apalagi smpe mbakar2 buku gtu... intinya gak berimbang sama sekali tu film dalam menyampaikan message-nya... menurut saya...

tpi khusus film negeri 5 menara ini, entah kenapa pokoknya saya harus nonton niy film... dan akhirnya nontonlah sy film negeri 5 menara...

begitu saya menonton filmnya... saya tidak henti2nya mengucapkan kalimat tasbih... niy film duahsyat abis... entah berapa kali mata saya berkaca-kaca, mengeluarkan air mata, semuanya dalam koridor terharu, lucu, senang, dan berbagai generator positif lainnya... mulai dari critanya, lokasinya, semuanya seolah-olah mengnhangatkan jiwa dan pokiran saya... tapi yang lebih penting adalah ceritanya... subhanallah subhanallah subhanallah... critanya sangat cantik, message-nya sangat masuk, dan karakter-karakter yang ada di filmnya juga sangat menarik... para pemerannyapun juga sangat baik memerankan tokoh-tokohny, wajahnyapun indonesia smw lagi, gak ada wajah2 'indo' sperti yg bertebaran di sinetron kita...saya sangat puas menyaksikan film ini... mungkin... yang saya rasa kurang menarik di film ini adalah durasinya yang seharusnya bisa lebih diperpanjang :-)

film ini sangat menarik, cantik, baik, entah apalagilah...

dan bgtu nonton film trsebut tadi malam, saya berencana ini tadi pergi ke toga mas buat beli bukunya... dan ternyata... habis... masih diorder...

gakpapalah... selain man jadda wajada, ada lagi man shobaro dhofiro... saya harus sabar... insyAllah nanti dapet kok bukunya...

Mabruk Negeri 5 Menara...

Mabruk Bang A. Fuadi...

Tulisan ini saya tulis dalam Testimoni saya di website Negeri 5 Menara...

Gak tau tapi kemuat semua apa tidak... :-)

Saat tulisan ini saya post masih Loading, hehe2...

Senin, 05 Maret 2012

UKURAN MATERI

Semalam saya bertemu dengan sahabat lama, salah satu teman seperjuangan ketika dulu aktif berorganisasi. Sahabat lama saya ini bertemu saya untuk kangen-kangenan sekaligus mendiskusikan beberapa hal dengan spesifikasi topik adalah : Menikah. Kebetulan sahabat saya ini akan menikah dua bulan lagi. Bicara tentang sahabat saya ini, dia memang menjadi salah satu orang yang cukup memberikan inspirasi bagi saya sejak dulu. Mulai dari Kemauan dia untuk berhijrah, Semangat dan antusiasmenya, kemauan dia untuk belajar, kemampuan dia dalam memaknai beberapa hal adalah hal yang saya harus banyak belajar dari beliau ini. Saat ini dia bisa dibilang dalam posisi almost on the top of career dalam karir bekerjanya dia. Saat ini dia bekerja di salah satu MNC di Indonesia, dan dia menjadi salah satu manager di daerah. Usianyapun masih muda, below 30. Alhamdulillah, (finally) dia akan mengakhiri masa lajangnya J dari pertemuan singkat dengan beliau, menginspirasi saya untuk menulis berikut ini :

Sering kita mengukur sesuatu dari hanya materinya saja. Misal, orang yang sukses adalah orang yang kaya. Atas dasar apa dia kita sebut kaya ? Rumahnya Mewah, Mobilnya Mewah, Depositonya banyak, dan berbagai banyak-banyak lainnya. Dan bagaimana orang itu bisa kaya raya? Penghasilannya banyak (Disini kita tidak meyinggung halal haramnya) makanya ketika lebaran, banyak masyarakat kita pada jor-joran, misal bawa mobil baru, HP terbaru, baju baru (kalo perlu labelnya masih nyangkut biar orang pada tau kalo bajunya baru) dan begitulah.... It’s all about Materi. Makanya ketika kita melihat orang yang rumahnya sempit, kemana-mana hanya bermotor ria ato bahkan menggunakan kendaraan umum. O... berarti orang ini sek melas, belum sukses. Ukuran kesuksesan itu hanya berlandaskan pada materi. Saja. Wajar siy memang mengingat hal tersebut adalah yang paling easy to see, dan memang hal tersebut adalah salah satu dari ukuran kesuksesan. Ya, salah satu dari salah banyak yang ada di muka bumi ini.

Mengingat betapa materialistisnya kebanyakan masyarakat kita, hal tersebut yang kemudian membuat kita menunda-nunda melaksanakan sesuatu. Salah satu yang paling gampang ditunda-tunda dalam hal ini adalah : Berkeluarga alias Menikah. Ya, banyak yang menunda menikah karena merasa belum mapan. Ya, ada misalkan sahabat saya yang meskipun gajinya minimal 5 juta perbulan, dia merasa belum mapan dan belum siap untuk menikah dan berkeluarga. Sementara ada sahabat saya yang lainnya, yang saya tahu gajinya 1 juta maksimal lebih-lebih dikit, dia berani untuk menikah, bahkan istrinya saat ini akan melahirkan anak keduanya. Dan dia saat ini masih hidup kok bersama istri dan anaknya, insyAllah sehat. Oya, istrinya temen saya ini tidak bekerja, which is pemasukan keluarga hanya berasal dari suami sahaja. Sahabat saya yang saya ceritakan di paragraf pertama tulisan inipun juga demikian. Saat ini dia membawahi banyak anak buah. Ketika teman saya berdiskusi dengan anak buahnya yang notabene gajinya dibawah dia, teman saya ini juga terkaget-kaget, salah satunya adalah anak buahnya yang sudah beranak 3, istri Ibu Rumah Tangga, tapi bisa beli rumah dan kendaraan roda 4. Padahal teman saya ini tahu persis berapa gajinya dan itu dibawah dia. Dan itu cukup. Tapi teman saya ini merasa gajinya masih saja belum cukup.





Begitulah, kalau kita melihat masyarakat-masyarakat kita, semakin macam-macam saja ceritanya. Selain menikah, salah satu yang ditunda-tunda oleh masyarakat kita dengan alasan materi biasanya adalah kepergian ke Tanah Suci. Ya, Menunaikan Rukun Islam ke- 5 ini memang relatively high cost. Paling nggak kalo gak salah, kalo kita mau umroh kita harus punya 17 Juta, Haji 35 juta, dan haji plus 70 juta. Itu baru seputar pemberangkatan dan akomodasi standar kita kesana,belum oleh-olehnya. Tapi kenyataan di lapangan, banyak orang-orang yang kita tahu masuk kriteria ‘melas’ itu tadi, ternyata sudah beberapa kali umroh dan naik haji. Sama istrinya lagi. Disisi lain, kita mendapati ada pejabat negara kita, yang sekali gajinya cukup untuk digunakan haji plus berdua bareng istrinya. Tapi nyata-nyatanya, pejabat negara kita ini belum naik haji ampe sekarang.

Anyway, dalam tulisan ini lantas bukannya saya sekonyong-konyong menuduh orang yang lum nikah dan lum haji itu karena terlalu perhitungan materi ato apa. Tapi dari tulisan ini setidaknya saya ingin mengajak kita berefleksi, jangan-jangan alasan kita belum menunaikan dua kewajiban ini tuh karena alasan itu tadi. Saya ambil contoh diri saya sendiri. Oke saat ini saya udah nikah, tapi inipun sebenarnya telat banget. Rencana saya nikah umur 25, tapi saya akhirnya menikah diatas usia tersebut. Tapi jujur selain materi, yang saya dapati terkait alasan saya untuk akhirnya menikah above 25 adalah masalah mental. Ya, menikah itu menurut saya adalah masalah mental dan kemauan. Itu saja. Setidaknya itu yang kemudian menjadi dasar atas segala sesuatunya selanjutnya. Bagi Pria. Kalo bagi wanita saya tidak paham. Karena saya sendiri belum pernah sama sekali menjadi wanita. Hehe. Dan wanita itu kompleks banget kayaknya. Not as simple as a Man. I Thought.

Kalo terkait haji, menurut saya itu benar-benar permasalahan ‘panggilan jiwa dan raga’. Mungkin ada siy orang yang karena kaya raya dia haji/umroh hampir tiap tahun. Tapi nyatanya, mungkin secara akhlaq ataupun tauladan, dia sangat tidak patut dijadikan acuan. Well, mungkin raganya tiap tahun bisa mengunjungungi baitul haram, tapi, bagaimana dengan jiwanya ? Itulah kenapa saya sebutkan tadi Mengunjungi Baitullah ini adalah Panggilan Jiwa dan Raga. Karena itulah mungkin kita banyak mendapati para haji / hajjah yang koruptor /atau melakukan tidak tidak terpuji lainnya. Itulah kenapa juga Ippho Santosa menyarankan kita untuk memantaskan diri untuk memenuhi Panggilan ke Tanah Suci. InsyaAllah kalau kita dah ‘layak’ akan ada kemudahan bagi kita untuk tiba-tiba saja bisa berangkat memenuhi Panggilan-Nya ke Tanah Suci. Tapi tetaplah, upaya otak kiri (menabung) dan otak kanan (memantaskan diri) harus tetap dilakukan. Tapi sekali lagi disini saya ingin menekankan, tidak hanya melulu materi materi dan materi. Tapi tetaplah materi itu penting. Tapi pemantasan diri adalah upaya yang mutlak harus kita lakukan. Itu kalau kita ingin memenuhi Panggilan Jiwa dan Raga ke Tanah Suci. Kalo Cuma datang kesana, foto-foto, shopping, ya... itu aja yang didapat.

Mengakhiri tulisan ini, saya ingin mengatakan saya tidak menjustifikasi ataupun menuduh orang yang lum haji dan lum nikah itu buruk ato apa. Khusus untuk menikah tulisan ini hanya berlaku untuk pria ya, kalo wanita.... ya ada ceritanya sendirilah, dan saya tidak tahu itu. Tapi kalau haji ini lintas gender J Kalau toh kita belum menikah ataupun belum berhaji ya coba tanyakan kepada diri kita apakah ke’belum’an kita melakukannya apakah karena kita terlalu memikirkan materi ? Ya materi itu penting, tapi percayalah Allah akan memudahkan kalau kita memang berniat. Mari kita niatkan dulu, lakukan upaya-upaya ala otak kiri, dan pertajam pula upaya-upaya otak kanannya. Kalau kita belum melakukannya karena berbagai alasan lain yang itu memang menurut kita patut dilaksanakan dulu, ya monggo-monggo saja. Coz we are livin’ our very own life. Cuma ya itu tadi, jangan sampai ukuran-ukuran materi menjadi dasar utama kita dalam mengambil keputusan-keputusan dalam hidup kita.

We wish you very very happy and very wonderful life J

Kamis, 09 Februari 2012

BOLA GOLF


Seorang pemain profesional bertanding dalam sebuah turnamen golf. Ia baru saja membuat pukulan yang bagus sekali yang jatuh di dekat lapangan hijau. Ketika ia berjalan di fairway, ia mendapati bolanya masuk ke dalam sebuah kantong kertas pembungkus makanan yang mungkin dibuang sembarangan oleh salah seorang penonton. Bagaimana ia bisa memukul bola itu dengan baik? Sesuai dengan peraturan turnamen, jika ia mengeluarkan bola dari kantong kertas itu, ia terkena pukulan hukuman. Tetapi kalau ia memukul bola bersama-sama dengan kantong kertas itu, ia tidak akan bisa memukul dengan baik. Salah-salah, ia mendapatkan skor yang lebih buruk lagi. Apa yang harus dilakukannya? Banyak pemain mengalami hal serupa. Hampir seluruhnya memilih untuk mengeluarkan bola dari kantong kertas itu dan menerima hukuman. Setelah itu mereka bekerja keras sampai ke akhir turnamen untuk menutup hukuman tadi. Hanya sedikit, bahkan mungkin hampir tidak ada, pemain yang memukul bola bersama kantong kertas itu. Resikonya terlalu besar. Namun, pemain profesional kita kali ini tidak memilih satu di antara dua kemungkinan itu. Tiba-tiba ia merogoh sesuatu dari saku celananya dan mengeluarkan sekotak korek api. Lalu ia menyalakan satu batang korek api dan membakar kantong kertas itu. Ketika kantong kertas itu habis terbakar, ia memilih tongkat yang tepat, membidik sejenak, mengayunkan tongkat, wus, bola terpukul dan jatuh persis di dekat lobang di lapangan hijau. Bravo! Dia tidak terkena hukuman dan tetap bisa mempertahankan posisinya. *** Ada orang yang menganggap kesulitan sebagai hukuman, dan memilih untuk menerima hukuman itu. Ada yang mengambil resiko untuk melakukan kesalahan bersama kesulitan itu. Namun, sedikit sekali yang bisa berpikir kreatif untuk menghilangkan kesulitan itu dan menggapai kemenangan. (anonymous)